Sambut Hari Buruh, Ini Pernyataan BEM Malang Raya


Malang - Dalam upaya menjaga kondusivitas pergerakan mahasiswa di Kota Malang, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Malang Raya menegaskan komitmennya untuk tetap berada dalam koridor aksi yang tertib, terarah, dan bertanggung jawab.

Hal ini disampaikan langsung oleh Koordinator Daerah BEM Malang Raya Mohamad Fauzi, pada Kamis (30/4) dalam sebuah forum diskusi strategis yang membahas dinamika serta arah gerakan mahasiswa ke depan, khususnya menjelang momentum Hari Buruh.

Dalam pandangannya, kata dia, tindakan anarkisme dinilai bukan merupakan karakter asli mahasiswa, terlebih bagi Kota Malang yang selama ini dikenal sebagai kota pendidikan. Oleh karena itu, setiap pergerakan yang dilakukan selalu diupayakan berjalan secara substantif dan tidak memberikan ruang bagi kelompok-kelompok yang berpotensi menciptakan eskalasi konflik. 

Selain itu, lanjut Fauzi, internalisasi isu kepada kader menjadi perhatian utama agar setiap peserta aksi memahami secara utuh substansi yang diperjuangkan, sehingga gerakan tidak kehilangan arah.

Lebih lanjut, BEM Malang Raya menekankan pentingnya proses konsolidasi dalam setiap tahapan pergerakan. "Sebelum aksi dilaksanakan, dilakukan penyamaan persepsi baik dari sisi isu maupun teknis lapangan guna meminimalisir miskomunikasi dan potensi gesekan," imbuhnya. 

Tidak berhenti pada pelaksanaan, terang Fauzi, evaluasi pasca aksi juga menjadi bagian integral melalui mekanisme debriefing, sebagai langkah reflektif untuk meningkatkan kualitas gerakan di masa mendatang.

Menyikapi momentum Hari Buruh yang diperingati setiap tanggal 1 Mei, BEM Malang Raya saat ini masih berada dalam tahap konsolidasi dengan berbagai elemen mahasiswa lainnya. Namun demikian, kata Fauzi, ditegaskan bahwa pihaknya tidak akan bergabung dengan pergerakan yang diinisiasi oleh kelompok Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu.

"Sikap ini menunjukkan adanya selektivitas dalam menentukan afiliasi gerakan, dengan tetap mempertimbangkan kesesuaian nilai, arah perjuangan, serta potensi dampak di lapangan," ungkapnya. 

Di sisi lain, terkait isu Makan Bergizi Gratis (MBG), BEM Malang Raya sebelumnya telah melakukan survei langsung ke sejumlah titik dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Malang. Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, tidak ditemukan adanya indikasi pelanggaran dalam pelaksanaannya. 

Bahkan, hasil wawancara terhadap siswa di beberapa sekolah menunjukkan respons positif, di mana program tersebut dinilai cukup membantu dalam pemenuhan kebutuhan mereka.

"Temuan ini menjadi indikator bahwa tidak semua isu yang berkembang memiliki dasar permasalahan di lapangan, sehingga pendekatan berbasis data tetap menjadi landasan utama dalam menyikapi kebijakan publik," pungkas Fauzi. (asa)

Comments